Desa Bodag merupakan salah satu dari 18 desa di wilayah Kecamatan Ngadirojo, yang terletak 3 Km ke arah utara dari kota Kecamatan, Desa Bodag mempunyai luas wilayah seluas 370,815 hektar.
Adapun batas-batas wilayah Desa Bodag:
- Sebelah Utara : Desa Tanjung Lor
- Sebelah Selatan : Desa Cokrokembang
- Sebelah Timur : Desa Cangkring
- Sebelah Barat : Desa Ngumbul
Iklim Desa Bodag, sebagaimana desa-desa lain di wilayah Indonesia mempunyai iklim kemarau dan penghujan, hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap pola tanam yang ada di Desa Bodag, Kecamatan Ngadirojo.
Di balik tenangnya kehidupan masyarakat Desa Bodag, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur tersimpan kisah sejarah sarat makna perjuangan, keimanan, dan kearifan lokal. Desa yang kini dikenal religius dan damai ini ternyata berakar dari perjalanan spiritual dan perjuangan tiga tokoh yang hidup pada masa perang besar melawan kolonial Belanda, yaitu Ki Pakih Udin bersama dua pengikut setianya, Pawiro Sari dan Admo Projo. Kisah ini bermula sekitar tahun 1825, ketika tanah Jawa bergolak karena pecahnya Perang Diponegoro (1825–1830). Perang ini bukan hanya perlawanan bersenjata melawan penjajahan tetapi juga simbol perjuangan mempertahankan martabat, agama, dan tanah leluhur. Pangeran Diponegoro bersama para pengikutnya berjuang menolak pembangunan jalan oleh pemerintah kolonial Belanda yang dianggap menodai kesucian makam leluhur. Setelah perang berakhir dan banyak pasukan tercerai-berai, sebagian laskar Diponegoro melarikan diri ke berbagai wilayah, termasuk ke daerah selatan Jawa Timur. Di antara mereka, tiga sosok yang kelak menjadi cikal bakal Desa Bodag memilih berjalan menyusuri hutan dan perbukitan di wilayah selatan Ponorogo hingga Pacitan. Mereka mencari tempat baru untuk melanjutkan hidup dalam ketenangan yang jauh dari hiruk pikuk peperangan, namun tetap membawa semangat jihad dan nilai-nilai Islam yang telah mendarah daging.
Kedatangan di Lorok & pertemuan dengan Ki Ageng Bandung
Perjalanan panjang Ki Pakih Udin dan dua pengikutnya akhirnya berhenti di sebuah daerah bernama Lorok yang pada waktu itu masih merupakan wilayah terpencil. Pada tahun-tahun tersebut sebagian besar tanah Lorok masih berupa rawa dan lembah yang sepi. Namun tanah tersebut subur dan memiliki potensi untuk dijadikan tempat bermukim. Wilayah Lorok masuk ke dalam wengkon Pacitan atau dikenal juga sebagai Wengker Kidul, berada di bawah kekuasaan seorang pemimpin lokal bernama Ki Setro Ketipo dengan Ki Ageng Posong sebagai tokoh penting di bidang keagamaan dan pemerintahan. Secara administratif, Pacitan dan wilayah sekitarnya bahkan masih termasuk wilayah Jawa Tengah yang tergabung dalam pengaruh Daerah Istimewa Yogyakarta.
Begitu tiba di Lorok, Ki Pakih Udin bersama dua pengikutnya tidak langsung membuka lahan. Mereka terlebih dahulu menemui tokoh masyarakat sekaligus ulama berpengaruh di daerah tersebut, yaitu Ki Ageng Bandung. Sosok ini dikenal sebagai tangan kanan Bupati Ponorogo yaitu Bathoro Katong dan juga pengasuh sebuah pesantren di Dukuh Setriyan, Desa Hadiluwih. Sebagai orang baru mereka datang dengan sopan, memperkenalkan diri, dan meminta izin untuk menetap di wilayah sekitar. Pertemuan mereka berlangsung dalam suasana penuh hormat dan kekeluargaan. Setelah berdiskusi panjang tentang asal-usul dan tujuan mereka, Ki Ageng Bandung akhirnya memberikan kepercayaan besar kepada Ki Pakih Udin beserta dua pengikutnya untuk membuka wilayah baru di daerah yang belum berpenghuni. Wilayah itu berada di lereng bukit kapur Nawangan, daerah yang waktu itu masih disebut “bongkor” atau “medak” artinya tanah kosong yang belum dijamah manusia.
Jejak Tokoh Sekitar dan Persebaran Permukiman
Sementara itu, wilayah sekitar juga mulai berkembang dengan dibukanya beberapa dukuh lain oleh tokoh-tokoh yang masih memiliki hubungan dekat dengan Ki Ageng Bandung. Di wilayah tengah Lorok yang kini menjadi Desa Wiyoro dan Ngadirojo terdapat bukit kapur terkenal bernama Sumber Kapyuran yang menjadi tempat tinggal Ki Ageng Wonopolo, menantu Ki Ageng Bandung. Di sisi lain wilayah utara yang meliputi Dukuh Diro dan Dukuh Kunci dibuka oleh Ki Ageng Sanjoyo Rangin, sahabat Ki Ageng Bandung. Keduanya disebut berasal dari Jawa Barat yang menandakan adanya arus pergerakan orang Jawa dari barat ke timur dengan membawa pengaruh budaya, agama, dan sistem sosial yang khas. Kehadiran para tokoh ini memperkaya dinamika masyarakat Lorok dan sekitarnya. Masing-masing memiliki peran penting dalam menyebarkan ajaran Islam, membangun jaringan sosial, dan menanamkan nilai gotong royong yang menjadi hal yang penting bagi masyarakat pedesaan hingga kini.
Babat Alas Nawangan: Awal Sebuah Peradaban
Dengan restu dan amanah dari Ki Ageng Bandung, ketiga tokoh ini melanjutkan perjalanan menuju lereng bukit kapur Nawangan. Daerah itu masih liar yang penuh semak belukar dan jauh dari permukiman. Namun dengan tekad yang kuat, mereka yakin bahwa dari tanah kosong itulah kehidupan baru bisa dibangun. Dalam pandangan masyarakat Jawa, “babat alas” bukan sekadar membuka lahan fisik, tetapi juga berarti membangun peradaban baru di mana semangat spiritual dan sosial diuji. Ketiga tokoh itu mulai mendirikan tempat tinggal sederhana dan menata kehidupan mereka berdasarkan nilai-nilai Islam.
Sebagai mantan laskar Pangeran Diponegoro, mereka membawa pengalaman berharga dalam hal kepemimpinan, strategi, dan solidaritas. Memiliki bekal pengetahuan agama yang kuat sehingga tidak mengherankan jika langkah pertama dalam membangun desa dimulai bukan dari rumah pribadi, tetapi dari mendirikan tempat ibadah. Mereka membangun Masjid di daerah Krajan, yang kelak menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus pemerintahan. Masjid ini menjadi lambang awal kehidupan sosial masyarakat yang religius. Adzan pertama kali berkumandang di wilayah itu menjadi tanda dimulainya kehidupan baru yang penuh berkah. Seiring berjalannya waktu, masjid tersebut berganti nama menjadi Masjid Al-Hidayah hingga kini masih berdiri megah sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat Desa Bodag. Masjid Al-Hidayah merupakan salah satu masjid yang tercatat di DKI sebagai bangunan peribadatan tua yang masih dipergunakan.
Makna Religius dalam Pendirian Desa
Ki Pakih Udin tidak sekadar membangun permukiman, tetapi juga menanamkan nilai-nilai spiritual yang kuat. Beliau mengajarkan pentingnya tiga prinsip persaudaraan:
- Ukhuwah Nazarbiah – persaudaraan berdasarkan niat dan cita-cita baik,
- Ukhuwah Barariah – persaudaraan sosial dalam tolong-menolong dan kebersamaan,
- Ukhuwah Islamiyah – persaudaraan sesama umat Islam.
Ketiga nilai itu menjadi dasar bagi pembangunan masyarakat yang harmonis dan berkeadaban. Bagi Ki Pakih Udin, membangun desa berarti juga membangun manusia karena desa bukan hanya tempat tinggal melainkan wadah kehidupan spiritual, sosial, dan budaya. Dalam setiap aktivitas nilai tawakal (berserah diri kepada Allah) dan amanah (kejujuran dalam tanggung jawab) selalu diajarkan. Prinsip inilah yang kemudian mengakar dalam kehidupan masyarakat Bodag, menjadikannya dikenal sebagai desa yang damai, religius, dan berpegang pada nilai moral.
Dari Bongkor Menjadi Bodag
Nama “Bodag” lahir dari proses panjang yang bermula dari istilah lokal “bongkor” atau “medak”, yang berarti tanah kosong. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya permukiman, sebutan itu bergeser menjadi “Bodag”. Nama ini kemudian digunakan secara resmi sebagai identitas desa, menggambarkan perjalanan dari lahan kosong yang tidak bertuan menjadi wilayah yang hidup dan berpenghuni. Proses perubahan nama ini juga merefleksikan perjalanan spiritual masyarakatnya. Dari “kosong” menuju “berisi”, dari “tidak dikenal” menjadi “bermartabat”. Secara simbolik, Bodag adalah wujud nyata dari perjuangan manusia dalam mencari makna hidup melalui kerja keras, doa, dan kebersamaan. Bodag kemudian membagi wilayah desa menjadi 4 bagian terdiri atas beberapa dusun, di antaranya Dusun Krajan, Dusun Doyo, Dusun Kepuh, dan Dusun Pucangnanas. Masing-masing dusun memiliki makna tersendiri yang berkaitan dengan sejarah maupun kondisi alam pada masa lalu. Dusun Krajan dinamakan demikian karena pada awalnya menjadi pusat pemerintahan atau wilayah yang dianggap sebagai “Kerajaan” pada masa itu. Dusun Doyo berasal dari nama sebuah pohon yang disebut “Ndoyo”, sedangkan Dusun Kepuh juga mengambil nama dari pohon kepuh yang banyak tumbuh di wilayah tersebut. Adapun Dusun Pucangnanas diduga berasal dari nama dua jenis tumbuhan, yaitu Pucang (pinang) dan Nanas yang dahulu banyak dijumpai di kawasan itu.
Warisan yang Hidup hingga Kini
Hingga kini jejak perjuangan Ki Pakih Udin, Pawiro Sari, dan Admo Projo masih terasa dalam kehidupan masyarakat Desa Bodag. Masjid Al-Hidayah yang dahulu menjadi pusat pemerintahan kini tetap menjadi pusat kehidupan sosial dan spiritual warga. Setiap kegiatan keagamaan seperti musyawarah desa hingga peringatan hari besar Islam sering kali berpusat di tempat ini, menjadikannya simbol keberlanjutan nilai-nilai pendiri desa. Selain itu, masyarakat Bodag masih menjaga semangat gotong royong yang diwariskan para leluhur. Dalam setiap kegiatan sosial mulai dari membangun jalan, membersihkan lingkungan, hingga membantu warga yang terkena musibah semangat kebersamaan itu selalu tampak nyata. Budaya silaturahmi juga menjadi ciri khas yang melekat. Warga masih menjaga tradisi kuno seperti kenduri, selametan, dan tahlilan yang selain berfungsi sebagai bentuk doa, juga mempererat hubungan sosial antarwarga. Tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai ukhuwah yang ditanamkan Ki Pakih Udin ratusan tahun lalu masih terus hidup dan berkembang.
Desa Bodag dalam Perkembangan Zaman
Seiring waktu Desa Bodag terus mengalami perkembangan. Desa Bodag merupakan salah satu dari delapan belas desa di wilayah Kecamatan Ngadirojo. Terletak sekitar 3 km ke arah utara dari kota Kecamatan dan mempunyai luas wilayah seluas 370,815 hektar. Adapun batas-batas wilayah Desa Bodag seperti sebelah utara (Desa Tanjung Lor), sebelah selatan (Desa Cokrokembang), sebelah timur (Desa Cangkring), sebelah barat (Desa Ngumbul). Dari permukiman sederhana di lereng bukit kapur, kini desa ini tumbuh menjadi wilayah yang cukup maju dengan kehidupan masyarakat yang beragam. Meski modernisasi mulai masuk tetapi masyarakat Bodag tetap berusaha mempertahankan nilai-nilai luhur peninggalan para pendahulu. Pemerintah desa bersama masyarakat giat melestarikan sejarah lokal agar generasi muda tidak melupakan asal-usulnya. Kegiatan seperti penulisan sejarah desa, pembuatan film dokumenter lokal, serta pengembangan wisata berbasis budaya dan religi menjadi langkah nyata dalam menjaga warisan leluhur. Desa Bodag kini bukan hanya sekadar nama di peta melainkan simbol perjalanan panjang manusia dalam mencari kedamaian setelah gelombang peperangan. Dari jejak para laskar Pangeran Diponegoro lahirlah masyarakat yang menjunjung tinggi keimanan dan kebersamaan, membangun kehidupan baru di tanah yang dulu kosong dan sunyi.
Dalam perkembangan pemerintahan desa, sistem kepemimpinan di Bodag mengalami perubahan dari model tradisional menuju administratif modern. Pada masa awal, pemerintahan desa hanya berupa rumah kediaman kepala desa disebut kademangan. Secara historis, kademangan merupakan tingkat pemerintahan di bawah kabupaten sebagai tempat warga berkepentingan datang untuk bermusyawarah atau mengenai urusan desa. Kepala desa biasanya dibantu oleh cantrik atau pengawal. Kantor desa sebagaimana yang ada saat ini baru dibangun pada masa Pak Parno yang awalnya berlokasi di dekat taman kanak-kanak sebelum akhirnya berpindah ke tempat yang sekarang karena membutuhkan perluasan tempat. Adapun urutan kepala desa yang pernah memimpin Desa Bodag adalah sebagai berikut:
- Mangun Dikromo
- Kariyo Diproyo
- Tirto Sentono/Birun (1907-1935)
- Karto Sentono/Mungadi (1935-1955)
- Parno (1955-1989)
- Suparman (1989-1998)
- Tumingan (1998-2013)
- Ramelan (2013-2019)
- Haryono (2020-sekarang)
Selain peninggalan berupa masjid dan struktur sosial, masyarakat Bodag juga masih menjaga beberapa warisan budaya fisik, seperti belik (sumber air) dan sejumlah keris peninggalan leluhur. Benda-benda ini tidak hanya dianggap sebagai pusaka bersejarah tetapi juga simbol keseimbangan antara alam, manusia, dan spiritualitas.
Penutup: Dari Sejarah Menjadi Teladan
Kisah berdirinya Desa Bodag bukan hanya cerita tentang perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain tetapi juga tentang perpindahan nilai dari perjuangan fisik menjadi perjuangan moral dan spiritual. Ki Pakih Udin dan dua pengikutnya telah mengajarkan bahwa kehidupan yang damai bukan diperoleh dengan kekuasaan melainkan dengan ketaatan, kerja keras, dan ketulusan. Dari tangan mereka, lahir sebuah desa yang kini menjadi contoh bagaimana sejarah, agama, dan budaya bisa bersatu membentuk identitas masyarakat yang kuat. Warisan mereka bukan berupa harta benda tetapi ajaran hidup bahwa setiap tanah yang disentuh dengan niat baik dan kerja keras akan menjadi sumber kehidupan bagi generasi berikutnya. Desa yang lahir dari tanah bongkor, tumbuh dengan semangat keislaman, dan kini berdiri teguh sebagai saksi hidup perjuangan anak bangsa di masa lalu.